Konsep Aktor Jaringan pada Audit Internal Syariah di Malaysia

Dilihat dari perkembangan saat ini, Audit syariah menjadi lebih penting di ranah perbankan syari’ah ( BI ) karena perbankan syariah adalah industri yang sangat diatur yang dirancang untuk menciptakan pasar transparansi bagi para pemangku kepentingan. Aset IB telah tumbuh pada langkah luar biasa dan akan terus tumbuh dengan tingkat rata-rata 19,7% pertahun di tahun 2018. Untuk bersaing di pasar global, lembaga IB perlu memberikan hasil yang menarik dan layanan terbaik selain mempertahankan syariahnya sifat kepatuhan di semua operasi. Di Malaysia, Bank Negara Malaysia telah menerbitkan Kerangka Kerja Tata Kelola Syariah dengan tujuan utama untuk meningkatkan struktur kunci yang relevan untuk kepatuhan Syariah dengan tujuan untuk menyediakan lingkungan operasi berbasis Syariah. Beberapa bank sudah menyiapkan Fungsi audit syariah sebelum pengumuman SFG.

Di Malaysia sendiri, audit syariah sudah lebih dulu di kenalkan oleh BNM atau bank Negara Malaysia. Terkait dengan hal ini, pertumbuhan perbankan dan keuangan islam telah berkembang pesat selama beberapa tahun terakhir. Lembaga keuangan islam ( IFI ) pada khususnya, yang dibentuk dengan tujuan dan pandangan dunia yang berbeda, meningkat secara drastic di seluruh dunia. Tidak banyak pilihan kecuali bergantung pada system audit yang ada. Walau sebenarnya struktur tata kelola dan operasinya berbeda dengan system keunagan normal. Adapun langkah positif yang di ambil oleh badan pengatur di Malaysia salah satu nya adalah penerbtan tata kelola syariah oleh bank. Salah satu pendekatan IFI adalah oengenalan produk produk islam seperti audit syariah, BNM mengharapkan audit syariah memberi penilaian independen dan objektif . ruang lingkup audit syariah menurut IFI ialah yang mencakup semua aspek audit keuangan , audit kepatuhan pada struktur organisasi dan meninjau kecukupan syari’ah pada pemerintahan.

Pendekatan yang di gunakan untuk audit syariah itu snediri adalah dengan di adakannya konsep actor jaringan, atau disebut dengan ANT ( actor- network theory )
biasa dikaitkan dengan Bruno Latour, seorang antropolog ahli tentang kajian sains dan teknologi. ANT merupakan pendekatan yang pada awalnya dipakai dalam studi STS (Science, Technology, and Society), salah satu kajian multidisiplin dan transdisiplin yang meneliti tentang cara teknologi memengaruhi perubahan sistem politik, ekonomi, dan perilaku masyarakat. Studi STS bukan sekedar kajian tentang fungsi dan pemanfaatan teknologi oleh manusia, tetapi kajian yang lebih mendalam tentang cara teknologi mengubah struktur dan perilaku manusia yang terjadi melalui jaringan perdebatan politik, ilmiah, dan kultural tentang pembuatan dan penerapan bentuk teknologi. ANT memberikan satu warna pada studi STS dengan memertanyakan dikotomi antara manusia/teknologi, atau lebih dikenal dengan dikotomi culture/nature, dan memberikan kerangka metodologis untuk memahami jaringan sosial dan pengetahuan sains-teknologi. Dalam perkembangannya, ANT tidak hanya di pakai dalam studi STS, namus sudah banyak dipakai juga dlama studi lingkungan, sejarah ilmu, budaya , infrastruktur dan lainnya. ANT hanya berfokus pada proses dinamis dengan tindakan kolektif yang tercermin dalam jaringan seperti pembentukan , pertumbuhan yang cocok digunakan untuk pendekatan interpretasi. Di Malaysia ini ANT juga di dekatkan pada system audit guna merubah system audit syariah yang ada menjadi lebih baik.

Konsep terjemahan di bawah ANT adalah untuk menggantikan tujuan dan kepentingan, audit syariah praktik, manusia dan institusi. Itu tidak hanya memberi simetris deskripsi proses kompleks yang terus-menerus mencampurkan manusia dan non-manusia entitas. Ini juga memungkinkan penjelasan tentang bagaimana mereka mendapatkan hak untuk mengekspresikan dan mewakili banyak aktor bisu yang telah mereka gerakkan. Suatu entitas dapat mengekspresikannya bahasa. Dalam acara ini, ada pendirian diri sebagai juru bicara (Stanforth, 2007).

di awal fungsi kepatuhan syariah di bank syariah. Itu menjelaskan proses perubahan audit syariah internal sejak periode sebelum penerbitan SGF. Semua aktor melewati berbagai metamorfosis dan transformasi (Callon, 1986). Proses terjemahan dinyatakan dalam bahasa sendiri apa yang orang lain katakan dan katakana inginkan, mengapa mereka bertindak dengan cara yang mereka lakukan, dan bagaimana mereka bergaul satu sama lain dan membentuk juru bicara. Hubungan antar aktor diterjemahkan dengan berbagai macam perpindahan dan transformasi. Itu adalah penjelasan tentang proses keempat fase – problematisasi, interessement, pendaftaran, dan mobilisasi – yang pada kenyataannya mungkin tumpang tindih atau tidak pernah berbeda. Kerangka Kerja Perubahan Audit Syariah berkontribusi pada perluasan literatur audit Syariah, yang sebagian besar difokuskan pada bidang perubahan dalam studi audit syariah internal. Aplikasi terjemahan proses di bawah ANT dalam operasi unik IBI telah menyediakan eksplorasi proses, dan identifikasi aktor dan pelaku utama dalam audit internal Syariah praktik. Ini jarang dibahas dalam literatur perbankan Islam besar. Dilihat dari beberapa permasalahan terkait dengan audit syariah di Malaysia dengan menerapkan ANT bisa memberikan pemahaman apa itu audit syariah terhadap realita social yang terjadi, juga dapat menjadi referensi dalam perkembangan audit syariah dalam dunia perbankan islam. Yang dnegan begitu pemahaman ini kemudian dapan menyebar melalui proses interaksi anatar actor dengan actor lain nya.

Asma Saifana, STEI SEBI

News Feed