Efektifitas Audit Internal di Lembaga Keuangan Syariah

Audit Internal di Lembaga Keuangan Syariah (LKS) harus memiliki cakupan lebih luas di bandingkan dengan audit konvensional karena pada dasarnya pada Lembaga Keuangan Islam harus beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah yang berlaku. Tingkat kepatuhan Lembaga Keuangan Islam terhadap prinsip-prinsip syariah tersebut dapat mencerminkan bagaimana akuntabilitas serta integritas dalam Lembaga Keuangan Islam tersebut.

Untuk memeriksa apakah audit internal di Lembaga Keuangan Syariah telah mencapai efektifitas nya dapat di ukur berdasarkan delapan pengukuran, yaitu : Ruang lingkup Audit Syariah, Tujuan Audit Syariah, Audit Syariah dan Pemerintahan, Piagam Audit Syariah, Kompetensi Internal Audit Syariah, Proses Audit Syariah, Persyaratan Pelaporan dan Independen.

Pemeriksaan efektivitas pada audit internal di Lembaga Keuangan Syariah merupakan suatu hal yang penting untuk dilakukan karena tugas auditor internal berbeda, auditor internal tidak memberikan pernyataan atau opini terkait kondisi keuangan perusahaan seperti yang dilakukan oleh auditor eksternal, namun tugas dari auditor internal adalah menguji dan mengavaluasi bagaimana pelaksanaan suatu pengendalian internal dan manajemen risiko yang diterapkan di Lembaga Keuangan Syariah, serta mengevaluasi kepatuhan aktivitas di LKS terhadap prinsip-prinsip syariah yang berlaku. Selain itu auditor internal lebih berorientasi ke masa depan sedangkan pada auditor eksternal lebih berfokus kepada kejadian-kejadian historis suatu perusahaan.

Lembaga keuangan syariah membutuhkan auditor syariah untuk menjunjung tinggi tingkat kepercayaan pemegang saham bahwa Lembaga keuangan syariah tersebut dalam aktivitas keuangannya telah sesuai dan mematuhi prinsip-prisip syariah. Para ahli menganjurkan adanya audit syariah karena dengan adanya audit syariah adalah sebagai cara untuk menjamin bahwa aktivitas yang dilakukan oleh LKS telah mematuhi prinsip syariah, hal ini disebabkan karena audit internal lebih melakukan pemeriksaan berkelanjutan, berbeda dengan auditor ekternal yang melakukan pemeriksaan dalam jangka 1 tahun.

Auditor internal di dalam Lembaga Keuangan Syariah dalam mengevaluasi operasi yang dilakukan di Lembaga Keuangan Syariah tersebut antara lain adalah dengan cara memastikan bahwa kegiatan yang di lakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah tersebut telah sesuai dengan prinsip syariah, menilai apakah prosedur dari setiap produk untuk memastikan apakah telah sesuai dengan prinsip syariah, serta memeriksa sistem pengendalian internal yang dilakukan Lembaga Keuangan Syariah tersebut sesuai dengan prinsip syariah yang berlaku.

Efektifitas pada audit internal syariah dapat dilihat dari sejauh mana fungsi audit tersebut telah mencapai tingkatnya dalam menetapkan tujuannya dalam memastikan sistem internal kontrol yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah telah efektif dan memiliki kepatuhan syariah, selain itu fungsi audit syariah juga dapat memberikan kepastian bahwa kegiatan yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah terlah mematuhi prisip-prinsip syariah.

Seorang Auditor harus memiliki informasi yang luas mengenai ruang lingkup, tujuan, sistem, dan proses audit syariah di masing-masing Lembaga Keuangan Syariah. Ruang lingkup Audit merupakan aspek yang penting dalam mengukur efektifitas audit internal syariah karena mengarah pada pelaksanaan audit internal untuk memberikan jaminan terhadap sistem pengendalian internal yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah. Komponen ruang lingkup audit syariah yaitu meliputi audit atas laporan keuangan Lembaga Keuangan Syariah, Audit tentang kepatuhan syariah, serta melakukan review terhadap kecukupan syariah dalam Lembaga Keuangan Syariah tersebut.

Kompetensi seorang auditor internal syariah di Lembaga Keuangan Syariah, maka diperlukan juga pengetahuan mengenai Fiqh Muamalah dan Ushul Fiqh guna tercapainya Kepatuhan Syariah (shariah compliance). Selain itu kompetensi seorang auditor internal syariah dapat dilihat pula dengan kemampuannya melakukan audit dan menilai operasi yang yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah sesuai syariah. Di Malaysia, Pemerintah Malaysia melalui Bank Sentral Malaysia (CBM) telah memperkenalkan Shariah Governance Finance (SGF) atau Syariah Tata Framework pada 2011 untuk memperkuat struktur tata kelola syariah, proses dan pengaturan. Pengenalan SGF telah memberikan kekuatan baru terhadap fungsi audit syariah di mana pemeriksaan syariah dilakukan sebagai garis pertahanan ketiga dalam mengurangi risiko ketidakpatuhan syariah dari Lembaga Keuangan Islam di Malaysia.

Seorang auditor harus memiliki kompetensi dan kewajiban untuk menjaga pengetahuan profesional dan keterampilan seperti yang diharapkan oleh pihak yang mempunyai kepentingan seperti pemegang saham. Selain itu Mereka juga harus memiliki pendidikan khusus, pengalaman dan keahlian di bidang akuntansi dan memiliki sikap dan perilaku etis dalam pekerjaan. Namun terdapat kualifikasi tertentu untuk memahami kriteria serta cukup kompeten untuk menentukan jenis dan jumlah bukti yang harus dikumpulkan untuk membuktikan temuan audit.

Laporan audit syariah internal akan memberikan temuan-temuan pada ketidakpatuhan syariah, menilai terulangnya pelanggaran, merekomendasikan tindakan perbaikan, serta menyarankan pembetulan. Selain itu auditor internal syariah harus memiliki sikap mental independen untuk mengekspresikan pendapat mereka dalam laporan audit sehingga pengguna dan stakeholder akan percaya bahwa operasi Lembaga Keuangan Syariah telah patuh terhadap ketentuan syariah.

Selanjutnya Auditor internal syariah harus mempunyai sikap yang independen saat melakukan praktik audit syariah artinya adalah auditor syariah mempunyai kebebasan dalam menilai kegiatan yang di lakukan di Lembaga Keuangan Syariah termasuk pengendalian internalnya.

Anggi Rizki Irawati, STEI SEBI

News Feed