Rachmat Sutarnas, Dari Importir Menjadi Eksportir

JAKARTA Ketua Umum Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI) ini sebelumnya sebagai importir produk-produk Cina, kini berbalik menjadi eksportir produk-produk Indonesia ke Manca Negara.

Selama event Muslim Life Fest di Jakarta Convention Center (JCC), Ketua Umum Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI), Rachmat Sutarnas Marpaung, adalah sosok yang paling dicari awak media untuk diwawancarai. Dalam kesempatan itu pula, Majalah Moeslimchoice juga telah mewawancarai lelaki asal Batak itu disela-sela pameran tersebut.

Ustadz Rachmat, begitu ia disapa, mengawali karirnya sebagai karyawan selama 21 tahun. Ia pernah bekerja 17 tahun di Industri Migas. Pada tahun 2013, ia memutuskan untuk berhenti bekerja, lalu mulai fokus berwirausaha dengan membuka toko mainan yang barangnya diimpor dari Cina.

Kini ia mengembangkan sayap bisnisnya dengan beternak ayam, dan perkebunan tomat dengan teknis Green House dan Hidroponik di kawasan Pengalengan, Jawa Barat. Jika sebelumnya, ia sebagai importir barang-barang luar negeri yang masuk ke Indonesia, kini ia bersama rekan bisnisnya menjadi ekportir  produk-produk Indonesia ke Mancanegara.

“Jika dulu jadi importir, jual barang ke negara lain, kini saya balik, jadi eksportir. Boleh dibilang, seperti Jack Ma — pengusaha berkebangsaan Tiongkok – yang membawa membawa produk-produk Cina ke seluruh dunia. Tentu yang saya lakukan secara berjamaah bersama  anggota KPMI lainnya.”

Usaha yang dilakukan Ustadz Rachmat ini merupakan kontrisbusi bagi perkembangan ekonomi Indonesia. Ia terus mencari eksportir-eksportir baru untuk memasaarkan produknya ke luar negeri. Diantara barang yang kami ekspor ke Arab Saudi adalah briket arang batok kelapa,” kata Rachmat.

Saat ini, beliau juga sedang mengembangkan start up aplikasi Penunjang Ekonomi Nasional (Aspenku), yakni sebuah perusahaan marketplace Bussines to Bussines yang didirikan pada tahun 2018 oleh satu group yang terdiri dari para professional dan investor berpengalaman di berbagai sektor industri yang memiliki visi membantu pelaku industri di Indonesia maupun di luar negeri (petani, produsen, pedagang, dan eksportir/importir) untuk melakukan transaksi bisnis yang saling menguntungkan.

Marketplace Aspenku adalah marketplace untuk Indonesian exporters yang ingin mencari dan mengembangkan pasar keluar negeri.
Dalam marketplace ini juga ada fasilitas bidding/tender dimana buyer luar negeri dapat menyelenggarakan tender dengan mengundang Indonesia Exporters untuk mengajukan penawaran harga atas barang yang mereka butuhkan, ” ungkapnya seraya mengajak entreprenuer Muslim untuk segera buka toko di www.aspenku.com guna memasarakan produknya ke luar negeri.

 Pasar Umat Islam

Potensi pasar umat Islam, dikatakan Rachmat, ghirahnya sedang tinggi, terlebih setelah banyak orang yang konsen dengan halal dan syariah. Indonesia sebagai negara yang berpopulasi muslim terbesar di dunia ini dengan jumlah penduduknya 265 juta, dan 87 persen beragama Islam, tentu sangat berpotensi besar untuk untuk memenuhi kebutuhannya.

“Soal daya beli, tergantung pertumbuhan ekonomi secara makro. Untuk kebutuhan sandang dan pangan saja pasarnya besar. Jika ekonomi tumbuh maka daya beli masyarakat pun meningkat,” ujar Rachmat.

Ketika ditanya, apa kendala UKM Muslim untuk memulai usahanya, Rachmat menjelaskan, ada empat hal yang harus dihadapi. Pertama, produk UKM belum punya daya saing dan kompetitif. Karena itu harus kerja kerah guna menciptakan produk yang lebih berkualitas, harga terjangkau, kemasannya bagus, dan ketersediaan produknya bisa kontinyu.

Kedua, akses pasar. Tak ada gunanya punya produk, jika tak terjual. Ini jadi masalah. Karena itu UKM harus membuka pasar yang seluas-luasnya. Ketiga , msalah permodalan.  Biasanya para UKM memiliki kekurangan dalam pencatatan keuangannya, antara pribadi dengan usahanya. Sehingga kondisi itu menyebabkan lembaga keuangan tak tertarik untuk bekerjasama dalam menyediakan permodalan. Inilah PR kita untuk dibenahi.

Keempat, lemah dalam SDM, akibatnya pertumbuhan menjadi lambat. Untuk itu persoalan SDM harus diantisipasi, dan diperlukan sinergi dengan pihak lain. Terpenting, dalam berwirausaha harus membersihkan praktek ribawi untuk tidak menggunakan bank-bank konvensional.

Peran KPMI

Bicara entreprenuer muslim, Rachmat berharap muncul entrepeneur muda yang mengawali usahanya sejak awal. Harapannya bisa dikembangkan ide-ide kreatif dan turut ber berkontribusi dalam menumbuhkan perekonomian di Indonesia. Sehingga kesejahteraan masyarakat kian meningkat, mampu menyerap tenaga kerja dengan menciptakan lapangan kerja yang sebanyak-banyaknya.

“Untuk menjadi enterprenuer yang sukses, tentu saja harus learning proses, jatuh bangun. Kalau dilakukan sejak muda, mulai usia 20, diharapkan saat memasuki usia 30 tahun, usahanya sudah bekembang. Saya sendiri termasuk yang telat. Selagi muda, perbanyak pengalaman dan jaringan, sehingga perusahaan yang dibangun bisa berkembang cepat,” kata ayah beristri satu dan empat anak itu.

Rachmat berpendidikan S1 di Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial milik Departemen Sosial ketika itu. Program S2nya dilanjutkan ke Inggris di bidang manajem dan SDM. Saat ini memimpin anggota KPMI yang berjumlah 48.000 orang, tersebar dari Sabang hingga Merauke.

KPMI ( Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia) dibentuk pada tahun 2010 di Bogor, setelah sebelumnya diawali dengan dibuatnya website www.pengusahamuslim.com (2005) dan milist [email protected] (2008), sebagai sarana bersama bagi pengusaha muslim untuk mendalami akidah Islam yang lurus dan syariat Islam dalam bermuammalah (Fiqih Muammalah).

KPMI awalnya dari kajian-kajian yang diisi oleh para ustadz, seperti Fadil Basymeleh (Owner Zahir Accounting, pendiri KPMI), Ustad DR. Muhammad Arifin Baderi, Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc, DR Erwandi Tarmidizi. Para pendiri ini ingin berbagi ilmu bagaimana berwirausaha sesuai Qur’an dan Sunnah. Ketika itu para ustadz ini masih sekolah di Saudi, mereka suka mengirim tulisan tentang bermuamalah yang sesuai syariah.

“Para ustadz ini tidak lelah dan bosan-bosan untuk menjawab pertanyaan yang sebetulnya diulang-ulang. Ada 15.000 orang anggota mailing list, yang ingin bertemu di darat. Kemudian pada 2009 dilakukan silaturahim nasional di Pesantren Darul Falah, Bogor, yang saat itu belum ada legaliltasnya. Kemudian pada 2010 dibentuklah KPMI hingga anggota mailing listnya berkembang menjadi 20.000 orang,” kata Rachmat.

Syarat untuk menjadi anggota KPMI, dikatakan Rachmat, harus ada ustadz yang membimbing di korwil. Pembinaan itu dilakukan melalui kajian-kajian agama yang dilakukan secara rutin. Melalui kajian ini, anggota bisa berkonsultasi, bertanya tentang kasus-kasus kontemporer. Jika sudah mendapatkan ustadz sebagai pembimbing, KPMI Pusat akan memberikan SK bagi pendirian korwil KPMI yang baru. Adapun pemilihan pengurus tidak berdasarkan suara terbanyak, melainkan musyawarah.

“Komunitas ini visinya literasi, edukasi tentang muamalah berdasarkan Qur’an dan Sunnah agar selamat dunia-akhirat. Bila dapat keuntungan di dunia mendapat keberkahan. Jika KPMI itu program utamanya kajian, setelah itu ada keinginan untuk usaha bareng, ada yang berbentuk koperasi, ada yang jadi pemodal, ada pula yang mengelola usaha. Jadi prosesnya sebetulnya tidak direncanakan sebelumnya, hanya mengalir saja,” tandas Rachmat. (des)

 

News Feed