Masyarakat Sipil Tolak Kehadiran Rokok Elektronik “Juul” di Indonesia

JAKARTA | Usaha pemerintah Indonesia untuk mengurangi angka perokok anak dan remaja semakin terjal. Belum selesai menangani produk rokok konvensional, Indonesia kini harus berhadapan langsung dengan rokok elektronik. Salah satu produk rokok elektronik yang berusaha masuk ke pasar Indonesia adalah Juul.

Pada 3 September 2019 lalu, Juul telah meresmikan toko retail pertama di Indonesia yang berdomisili di Cilandak Town Square (Citos), Jakarta. Kekhawatiran masuknya Juni di Indonesia, disampaikan langsung oleh Hafizh Syafa’aturrahman, Ketua PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah di Sofyan Hotel, Cikini, Jakarta., ketika hadir sebagai pembicara diskusi dengan tema “Mengkaji Produk Juul: Ditolak Singapura, Dipertanyakan Amerika Serikat, Diterima di Indonesia?”

“Kami mempertanyakan komitmen pemerintah untuk menurunkan, Angka Prevalensi Perokok Pemula (usia 10-18 tahun). Di Amerika Serikat saja terlihat jelas bahwa produk Juul banyak dikonsumsi oleh anak-anak di bawah umur. Food and Drugs Administration (FDA) dan Federal Trade Commission (FTC) Amerika Serikat bahkan sampai membuka investigasi khusus atas hal tersebut. Kami jelas keberatan dengan kehadiran Juni di indonesia, anak-anak muda tidak boleh dijadikan target lagi,” tegas Hafizh.

Juul dan perilaku vaping sendiri meski sering diklaim lebih aman bagi kesehatan, telah mendapat sorotan tajam dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini tidak terlepas dari kisah viral pengguna aktif Juul, Chance Ammirata, mahasiswa 18 tahun asal Amerika Serikat, yang harus dilarikan ke rumah sakit karena paru-parunya tidak berfungsi lagi.

“Selain kisah mahasiswa yang paru-parunya berlubang dan muncul titik-titik hitam tersebut, banyak kasus lain yang terjadi di Amerika Serikat. Laporan The Washington Post menyebutkan terdapat 354 kasus penyakit paru-paru di 29 negara bagian Amerika Serikat yang dikaitkan dengan perilaku vaping. Klaim vaping lebih sehat itu jelas menyesatkan publik,” papar Dr. Feni Fitriani Taufik SpP(K), Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.

Koordinator Nasional Masyarakat Sipil Untuk Pengendalian Tembakau, Ifdhal Kasim, menjelaskan, negara harus tegas untuk melarang kehadiran Juul dan produk tembakau alternatif lainnya di Indonesia. “Kita lihat di Singapura dan Thailand, rokok elektronik itu sudah total dilarang. Bahkan di Amerika Serikat ada tren ke arah sana juga. Negara Bagian Michigan akan dipertanyakan, masa mau dibiarkan masuk ke Indonesia?” kata Ifdhal heran. (sas)

News Feed