Kebangkitan Ekonomi Syariah Indonesia, Peluang dan Tantangan

JAKARTA | Dalam waktu dekat ini, akan hadir sejumlah proyek pembangunan berbasis syariah di Indonesia, yang pembiayaannya didanai oleh Syariah Indonesia LLC, sebuah perusahaan pembiayaan berbasis Syariah.

“Perusahaan ini akan memberikan inovasi finansial bagi komunitas global yang terdiri dari berbagai negara untuk mendanai beberapa proyek pembangunan di Indonesia yang saat ini sedang berkembang,” kata Hartadinata Harianto sebagai CEO SR Group, didampingi oleh Suparmono selaku Country Manager Syariah Indonesia LLC, Praktisi Syariah Valentino Dinsi, dan Business Development Manager SR Group Ali Syaukany.

Adapun proyek pembangunan berbasis syariah tersebut, meliputi bidang Properti Syariah, HealthCare Syariah (Rumah Sakit & Klinik), Halal Tourism (Haji & Umroh ) dan Agro Bisnis. Kantor pusat kami berlokasi di New York City dengan kantor cabang di beberapa kota besar dan kabupaten sebagai perwakilannya.

Perlu diketahui, salah satu pendiri Syariah Indonesia LLC adalah Hartadinata Harianto, seorang Master Finance dari Claremont Mc Cenna (salah satu sekolah finance terbaik di Amerika), berdomisili di New York City, USA.

Di usia yang masih 25 tahun saat ini, Hartadinata dengan SR Group telah membangun beberapa gedung apartement dan hotel di New York, antara lain: Four Point Hotel, Holiday Inn Hotel dan Westin Hotel.

Dengan menunjuk Suparmono, SE, MM sebagai Country Manager Indonesia, Hartadinata sebagai CEO SR Group sekaligus CEO Syariah Indonesia LLC, akan fokus bersama mengembangkan ekonomi Syariah di Indonesia dan juga negara muslim lainnya.

Syariah Indonesia (SI) bersama beberapa investor dan komunitas pembiayaan dari beberapa negara, berbagi keuntungan dari bisnis – bisnis Syariah yang berada di Indonesia. Selain itu, memberikan layanan pembiayaan syariah terbaik dan terbesar sebagai media sharing ekonomi untuk mencapai kesejahteraan bersama.

Juga memberikan akses yang mudah untuk pembiayaan bagi pemilik usaha baik pemula maupun yang sudah berjalan, untuk dapat bekerjasama secara halal, aman, adil, transparan, akuntable, profitable dengan akad sesuai Syariah dengan Akad  Mudarabah.

SI juga akan memberikan manfaat yang optimal bagi pemegang saham dan masyarakat, serta membentuk ekonomi mandiri yang berlandaskan Syariah sebagai sarana sosial untuk sosial. SI akan menjadi perusahaan manajemen syariah paling inovatif, modern dan terdepan dengan skala Internasional.

“Tahun ini kami menargetkan pembangunan property Syariah dengan merealisasikan beberapa proyek-proyek perumahan di beberapa daerah di Indonesia. Di bidang halal tourism, haji-umrah, kami menargetkan dapat segera merealisasikan dan memberikan peluang kerjasama dengan beberapa travel agent yang ternama dan terdaftar di pemerintah,” kata Suparmono.

SI akan hadir dengan memberikan penawaran dengan harga yang terjangkau, fasilitas eksklusif dan rencana ke depan menyiapkan dana talangan bagi calon jama’ah yang memiliki kendala dalam pembiayaan admistrasi.

“SI mengajak para pebisnis baik pemula maupun yang sudah berjalan untuk mensukseskan program Ekonomi Syariah di Indonesia, termasuk beberapa pengusaha yang berkeinginan bergabung dengan kami di Syariah Indonesia, LLC baik sebagai rekanan maupun perwakilan di daerahnya” kata Suparmono.

Dengan 50 project jadi pilot projectnya, Property syariah dan Healthcare Syariah tidak hanya berlaku bagi kaum muslimin, tapi juga seluruh manusia, misalnya orang Amerika tertarik dengan bisnis syariah, *syariah profitable, oportunity business yg amazing.

Peluang Bisnis Syariah di Indonesia menurut Hartadinata Harianto sangat besar. Beliau mengaku heran, kenapa bisnis berbasis syariah di Malaysia lebih berkembang. Padahal Indonesia bisa sepuluh kali lebih besar dari Malaysia. Dari populasi penduduknya saja, Indonesia jauh lebih besar.

“Orang AS mengira Malaysia lebih besar dibanding Indonesia. Padahal justru sebaliknya. Karena itu saya ingin Indonesia maju.  Saya ingin bantu pertumbuhan ekonomi di Indonesia,” kata Hartadinata.

Kenapa berbasis syariah? Setelah mempelajari fundamen dan filosofi syariah, Hartadinata berpandangan, syariah ada cara bisnis yang baik, mengedepankan win-win, bukan untuk merugikan.

“Di Amerika, banyak sekali investment company yang orientasinya hanya mengejar profit semata. Secara bisnis dan keuangan, memang itu strategi yang efektif. Tapi saya, ayah saya, serta tim saya, merasa bisnis yang orientasinya semata profit, bukan bisnis yang baik. Saya tidak mau ada satu pihak yang diuntungkan secara maksimal, tapi disisi lain ada pihak yang dirugikan,” ujar Hartadinata.

Jika memahami prinsp fundamental dari syariah, win- win for every one menjadi sebuah alasan kenapa saya tertarik dengan syariah. Karena itu Hartadinata tidak tertarik jika prinsip menang untuk dirinya, tapi kalah untuk orang lain.

“Sejak kecil saya sudah diajarkan oleh ayah saya, untuk tidak melukai dan merugikan orang lain. Saya bisa menerima kerugian, tapi saya tak boleh merugikan orang lain.

Saat ini kami mencari partner untuk mendanai beberapa proyek. Untuk menjalankan bisnis ini, kami gunakan fundamental syariah yang dilandasi oleh win win share and benefit.

Besar di Amerika dan berlatar pendidikan disana, Hartadinata melihat, syariah bukan hanya diterima oleh mereka yang non muslim, tapi juga mendapat apresiasi. Ia dan ayahnya merasa jengkel ketika muncul Islamophobia di negara Barat.

“Ayah saya besar di Lamongan, banyak teman-teman saya yang bule. Ayah saya ketika itu  punya banyak teman baik dari kalangan muslim, sehingga tahu pribadi seorang muslim sejak mereka usia anak-anak. Sedangkan saya besar New York dan Singapura, temen-temen saya banyak yang muslim, Katolik, dan Budha. Kami bisa respek dengan filosofi agama, termasuk syariah. Bagi saya, syariah adalah right way,” kata Hartadinata yang mengaku terinspirasi dengan Ustadz Valentino Dinsi.

Sementara itu, Valentino Dinsi mengatakan, becandanya orang bisnis, duit itu tidak ada agamanya. Duit tetap duit,. Namun, ada satu mata uang yang paling penting, yaitu trust (kepercayaan). Bicara trust, maka tidak melihat agama, suku dan bangsanya apa. Selama bisnis saling menguntungkan, transparan, saling percaya, maka kita dapat berbisnis.

Dikatakan Valentino, dalam berbisnis, kita perlu partnership, tidak bisa jalan sendiri. Harus ada kolaborasi. Dalam berbisnis, kalkulasi ekonomi dan hitung-hitungan angka tidak cukup, tapi perlu feeling juga. Lagi-lagi kejujuran menjadi modal utama. Teladan nyata adalah Nabi Muhammad saw, sebelum beliau menjadi nabi itu menjadi pengusaha dulu, bahkan oleh masyarakat diberi gelar Al-Amin, artinya Orang Yang Dapat Dipercaya

Dalam Al Qur’an dijelaskan tentang draft kontrak transaksi pun diatur. Karenanya, ekonomi syariah harus memiliki prinsip transparan, akuntabel, dan profesional . Kalau kita tidak punya ketiga prinsip itu, wajar jika kita dijauhi orang. Terpenting adalah learn and grow together, belajar dan tumbuh bersama.”

“Momen Aksi 212 seyogianya menjadi awal kebangkitan umat. Jangan sebatas bangga dengan peristiwa yang nantinya hanya menjadi lembaran sejarah. Peluang itu harus diciptakan sebagai pergerakan kebangkitan ekonomi umat. Siapa cepat dia dapat. Jangan nunggu sudah ramai, nanti kita tidak dapat apa-apa,” kata Valentino.

“Kita tidak ingin umat Islam di Indonesia menjadi sebatas kerumunan, yang belum menjadi sebuah gerakan. Sekarang ini, semua orang bicara gerakan syariah, tapi leadernya belum ada. Saat ini saya belum melihat pemain utama ekonomi syariah,” ujarnya.

Orang bicara syariah, tapi hanya perbankan, finance, dan asuransi syariah. Ini terlalu cetek. SR harus masuki bidang dan pasar yang lebih luas, sehingga syariah bisa membumi. Jadi, manfaatkan peluang itu dan lakukan percepatan (speed),” ungkap Valentino Dinsi. (sas)

News Feed