Pergerakan IHSG Pekan Ini Dipengaruhi oleh Makroekonomi Dunia

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari Senin (21/1) berada pada zona hijau. Ditutup menguat karena ekonomi domestic stabil dan pada (21/1) juga dibuka menguat seiring arus modal asing masuk pada bursa efek Indonesia.

IHSG menguat karena meningkatnya harga komoditas dunia, yang diperngaruhi oleh makroekonomi dunia. IHSN naik 0,28% pada sesi I yaitu 6.466,50 ditopang oleh sektor pertanian dan pertambangan. Dari sektor pertanian naik 3,4%, sedangkan sektor pertambangan naik 0.92%. potensi yang menjadi tekanan tergadap IHSG adalah kenaikan dari harga minyak bumi. Pada sesi 1 ini harga minyak WTI naik 0,37% sedangkan untuk kontrak pada bulan Februari mendatang untuk harga pengiriman naik 3,32% menjadi 53,8 per barel. Kenaikan ini berdampak pada neraca perdagangan yang terus mengalami defisit neraca transaksi berjalan atau Current Account Deficit (CAD).

Hal ini berhubungan dengan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar dan mata uang utama lainnya seperti Euro, Pounsterling dan mata uang Asia lainnya yang akan terus melemah. Namun demikian, Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji, mengatakan, “pergerakan IHSG lebih dipengaruhi oleh menguatnya harga komoditas, seperti batu bara dan minyak bumi.”

Investor asing masih menjadi consumer utama di dunia saham Indonesia, mereka masih terus menggelontorkan dananya di pasar saham Indonesia. Masuknya dana asing dalam jumlah yang besar akan menjadi sentiment dalam negri untuk mampu membuat IHSG terus naik. Jumlah Investor asing yang masuk per (21/1) yaitu PT Telekomunikasi Indonesia Tbk yang melakukan pembelian bersih hingga Rp 267 Milyar dan Bank Central Asia Tbk (BCA) dengan membelian bersih 195,6 milyar.

Pada sesi I perdagangan saham pada Senin (21/1), volume perdagangan mencapai 6,61 Milyar saham dengan total nilai transaksi sebesar Rp 4,03 Triliun. Frekuensi perdagangan saham sebesar 255.471 kali. Terdapat 225 saham yang naik, 152 saham bergerak turun dan 162 saham tidak bergerak atau stagnan. Diprediksi kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jauh lebih baik pada tahun 2019 ini.

Deputy Head of Equity Research Mandiri Sekuritas Tjandra Lienandjaja, mengatakan IHSG diakhir tahun ini bisa mencapai 7.000. hal ini tentunya didorong oleh beberapa sector di belakangnya, diantaranya adalah Konsumer, Perbankan, Properti, Keuangan dan Kesehatan.

Menguatnya IHSG selama sepekan terakhir ini disebabkan oleh factor eksternal yang cukup dominan terutama dalam masalah kelanjutan negosiasi dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok dan rencananya permerintahan tiongkok akan meningkatkan stimulus ekonomi melalui peningkatan belanja fiscal dan pemangkasan pajak.

Selain itu, Factor lain seperti pemilu dan tren kenaikan suku bunga yang diperkirakan tidak lagi agresif tahun ini menjadi mendorong perbaikan pasar modal di dalam negri. (Lulu Rizkia)

Komentar

News Feed