Anak Kos Dapat Memulai Gaya Hidup Zero Waste Dengan Cara Ini

Oleh: Miefta Khoirina – FKM UI

Gerakan zero waste (nol sampah) sedang menjadi tren gaya hidup masa kini terutama di kalangan masyarakat urban. Banyak komunitas penggiat lingkungan di seluruh dunia yang telah mengampanyekan gerakan zero waste, baik di media sosial maupun di kehidupan nyata. Zero waste dapat diartikan sebagai gaya hidup minim (nol) sampah sehingga dapat mengurangi volume sampah maupun limbah yang dapat berbahaya bagi lingkungan. Zero waste dapat dilakukan dengan menerapkan konsep 5R (refuse, reduce, reuse, recycle, rot). Konsep 5R yang sebenarnya yaitu cara mengurangi produksi sampah dari barang yang dikonsumsi, bukan hanya cara mengolah sampah seperti pola pikir keliru yang sering terjadi di masyarakat.

Indonesia berada di peringkat kedua dunia penghasil sampah plastik terbanyak, jumlahnya hingga 187,2 ton per tahun. Kementrian Lingkungan Hidup menyebutkan bahwa sampah plastik yang dihasilkan oleh Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia mencapat 10,95 juta lembar plastik per tahun. Jumlah ini sama saja dengan 60 kali luas lapangan sepak bola. Mirisnya, 50 persen dari total sampah plastik tersebut adalah sekali pakai dan hanya lima persen yang benar-benar didaur ulang.

Menurut data dari Kementrian Lingkungan Hidup 2016, perkiraan jumlah sampah yang dihasilkan tiap orang mencapai 0,5-0,8 kilogram per hari. Diperkirakan seluruh warga Provinsi DKI Jakarta rata-rata menghasilkan sampah mencapai 70 ribu ton per harinya. Sebanyak 60 persen dari keseluruhan sampah merupakan sampah domestik rumah tangga. Dari 70 ribu ton sampah, hanya separuh yang tertampung di tempat pembuangan akhir (TPA dan sisanya berakhir di lahan-lahan kosong atau dibakar. Permasalahan sampah yang sering terjadi yaitu lebih banyak volume sampah dibanding daya tampung tempat pembuangan akhir (TPA). Akibatnya, sampah berpotensi menimbulkan permasalahan kesehatan lingkungan. Tumpukan sampah dapat menjadi tempat pembiakan lalat dan tikus sehingga mendorong penularan infeksi. Dilihat dari segi kualitas lingkungan, sampah juga mengganggu estetika dan aroma.

Anak kos memiliki potensi sebagai populasi penghasil sampah terbesar, terutama sampah plastik. Anak kos cederung untuk menggunakan plastik sekali pakai dalam konsumsi sehari-hari karena dinilai praktis dan efektif. Dapatkah anak kos menerapkan gaya hidup nol sampah? Upaya yang dapat dilakukan anak kos untuk memulai gaya hidup nol sampah dapat diawali dari kebiasaan refuse. Mulailah untuk menolak kantong plastik saat berbelanja atau menolak pemberian secara cuma-cuma seperti pemberian brosur maupun hadiah undian. Tahapan refuse merupakan kunci utama agar tidak memproduksi sampah dari kegiatan sehari-hari.

Tingkatan selanjutnya adalah reduce, mulai mengurangi konsumsi botol AMDK (Air Minum Dalam Kemasan) dan penggunaan Styrofoam. Saat ke kampus atau berpergian, mulailah untuk membiasakan membawa botol minum (tumbler) dan tempat makan sendiri untuk mengurangi produksi sampah. Tahap ketiga adalah reuse, menggunakan kembali barang-barang pakai ulang. Anak kos dapat mengganti sedotan plastik sekali pakai dengan sedotan stainless pakai ulang dan mengganti tisu dengan sapu tangan kain.

Apabila sampah anorganik yang dihasilkan sudah terlalu banyak, maka mulailah dengan cara mendaur ulang (recycle) barang-barang tersebut. Sebelum mendaur ulang, usahakan untuk memilah sampah. Sampah dapat dipilah menurut jenisnya, seperti sampah botol plastik, kemasan plastik, styrofoam, karton bekas minuman dan lain sebagainya. Sampah dari kemasan plastik dan botol plastik dapat dikreasikan menjadi ecobrick. Caranya dengan memasukkan sampah kemasan plastik ke dalam botol plastik bekas hingga padat, apabila telah terkumpul banyak botol dapat disetorkan ke komunitas ecobrick yang nantinya akan diolah menjadi perabot multifungsi seperti meja, kursi dan pengganti bata teembok. Sampah organik (sampah basah) juga dapat diolah kembali menjadi pupuk kompos untuk tanaman. Pupuk kompos diolah melalui proses komposing (rot) yang melibatkan peran cacing tanah.

Itulah cara-cara yang dapat dilakukan anak kos untuk memulai gaya hidup zero waste. Memang terdengar sedikit merepotkan apabila dilaksanakan, tapi percayalah langkah-langkah kecil seperti ini dapat melindungi bumi dari banyaknya sampah yang menjadi permasalahan dunia. Sebagai generasi muda, anak kos diharapkan dapat menjadi menjadi agen perubahan untuk lingkungan. Karena manfaatnya dapat dirasakan untuk masa sekarang dan masa depan.

Komentar

News Feed